Kamis, 10 Juli 2014

Just a poetry

Senandung rindu bahasa alam
mengiris tangis jerit angin berbisik
di lengkung gejolak ombak menerjang karang
dalam gemuruh api lava merapi
di atas tanah-tanah tandus,

bukankah Dia telah memberimu kehidupan
dengan buah-buahab dan sayur-sayuran
tanpa pernah kau siram 
bukankah Dia telah memberi binatang ternak
tanpa pernah kau beri makan
dari lautan kau temui mutiara yang indah
ikan-ikan yang berwana asinnya laut mempesona,

dengarlah jeritan kalbu wahai pemuda
lihatlah nestapanya
alam yang indah kini derita menggores
teraniaya sukmanya,

alam telah tersiksa dengan paksa besi baja
terpangkas tak bersisa
air keruh menggenang bau anyir darah
tumpukan tandus pohonan kering
kepanasan dalam ruangnya angkasa
kehausan dalam kemarau panjang ibunda merana,

alam menunggumu tidakkah kau rasa
merindukanmu apa kah kau tahu
dalam penantian tidakkah kau mengerti
dari sisa waktu yang lama
penih penantian dalam pengharapan 
kau kembali
karena Allah telah menjadikanmu khalifah
akankah kau lupa.

#tapak-tapak cinta ilahi

Just a poetry

Bergetar bibir melafazdkan kasih nama-nama agung
dalam kuyup sekujur basah keringat
berat batu terasa tak terasa
mengalih matahari sekejap pindah
di punggung hamba pencinta,

lembut syahdu dalam dera mendera

memanggil cinta
kokoh bertahan tak berpaling
di bibir apalagi di hati sekejap pun
penuh yakin pasti kekasih tak diam,

menanti ketentuan harap terima

dirham bergegas melepas siksa
bebas merdeka sesungguhnya cinta
atas ingat pemilik nama agung,

dalam cinta ada pengorbanan

pada cinta ada pengujian
di sana cinta ada keikhlasan
ketabahan, kesulitan, kesabaran sungguh
tauladan cinta nyata para aulia

#tapak-tapak cinta ilahi