Jumat, 05 Juli 2013
CARI TAHU YUK...: INFORMASI JURUSAN DI UNIVERSITAS
CARI TAHU YUK...: INFORMASI JURUSAN DI UNIVERSITAS: Haii... kawan.... terutama yang duduk di bangku SMA nihh,, mungkin lagi mencari-cari info tentang jurusan, atau mungkin lagi galau, mau masu...
Selasa, 02 Juli 2013
Dunia Psikologi (10)
Pengertian Kecerdasan Emosional (EQ)
Selama bertahun-tahun Kecerdasan Intelegensi (IQ) telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademisi, pendidik, praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang.
Daniel Goleman (1999), adalah salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni kecerdasan emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ).
Pengertian Kecerdasan Emosional
Steiner (1997) menjelaskan pengertian kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan yang dapat mengerti emosi diri sendiri dan orang lain, serta mengetahui bagaimana emosi diri sendiri terekspresikan untuk meningkatkan maksimal etis sebagai kekuatan pribadi.
Senada dengan definisi tersebut, Mayer dan Solovey (Goleman, 1999; Davies, Stankov, dan Roberts, 1998) mengungkapkan kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, dan menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memadu pikiran dan tindakan.

Berbeda dengan pendapat sebelumnya, Patton (1998) mengemukakan kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk mengetahui emosi secara efektif guna mencapai tujuan, dan membangun hubungan yang produktif dan dapat meraih keberhasilan. Sementara itu Bar-On (2000) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi adalah suatu rangkaian emosi, pengetahuan emosi dan kemampuan-kemampuan yang mempengaruhi kemampuan keseluruhan individu untuk mengatasi masalah tuntutan lingkungan secara efektif.
Dari beberapa pengertian tersebut ada kecenderungan arti bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan orang lain.
Dunia Psikologi (8)
Kunci Sukses Berpikir Berpositif
Mau tahu kunci kesuksesan hidup? Berpikirlah positif. Ya, berpikir positif membuat Anda maju dan sukses. Dengan pikiran yang positif Anda dapat menjalani segala sesuatu tanpa terbebani oleh seribu pikiran buruk. Anda juga terhindar dari perasaan takut gagal. Jalan di depan Anda pun selalu terasa lapang.
Berpikir positif juga menyehatkan. Donald C. Cole, MD, peneliti senior pada Institute for Work and Health di Toronto, menyatakan berpikir positif membantu kesembuhan seseorang, bahkan yang terkena penyakit kronis. Ini bukan omong kosong klise belaka. Salah satu alasannya, karena itu memberi perasaan memiliki kendali atas kesehatan tubuh dan masa depan Anda, jelas psikolog klinis Elizabeth Carl, PhD.
Anda ingin tahu bagaimana langkah berpikir positif itu? Ikuti jurus-jurus berikut ini.
Bangkitkan motivasi. Membangkitkan motivasi diri yang kuat dan menambah wawasan yang memperkuat berpikir positif merupakan langkah penting. Pengukuran kualitatif motivasi dapat dilakukan dengan memberikan pemisalan negative case jika suatu tujuan tak tercapai. Misalnya, renungkanlah kemungkinan jika Anda tak diterima kerja? Dari jawaban Anda, Anda dapat memprediksi dan merasakan seberapa kuat motivasi Anda untuk diterima kerja.
Yakinlah bisa.
Kelemahan motivasi acap disebabkan oleh pikiran negatif tentang kemampuan diri sendiri, atau tentang mekanisme gerak kehidupan. Cobalah untuk membangkitkan konsep diri positif pada diri Anda. "Jika saya berpikir bahwa saya bisa, maka saya bisa." Katakan setiap ingin melakukan apapun. Yakinkan bahwa Anda bisa. Jika saat ini gagal, berusahalah terus-menerus tanpa kenal lelah. Percayalah, sugesti dari dalam diri dapat membantu Anda mempercepat mencapai proses yang Anda harapkan.
Jangan fatalistis.
Jauhkan paham fatalisme yang menyerah pada nasib. Ini punya pengaruh kuat dalam diri Anda untuk membenarkan kegagalan. Menyandarkan kesalahan atau kelemahan pada takdir, yang pengejawantahannya seperti dalam pernyataan bahwa "Saya pada dasarnya bodoh", misalnya, merupakan sumber negative thinking yang signifikan. Anda harus memeranginya, jika ide tersebut ada pada diri Anda.
Lihat sisi baik.
Pandanglah sesuatu dari sisi baiknya. Karena berpikir positif adalah memandang segala sesuatu dari sisi pandang kebaikannya. Orang yang berpikir positif akan memandang keterbatasan kemampuannya pada suatu saat. Bukan sebagai suatu "kebodohan yang menimbulkan berbagai kesialan", tapi memandangnya sebagai suatu tantangan yang amat nikmat untuk diatasi. Orang yang berpikir positif akan memandang perjuangan dan harapan. Orang yang berpikir positif akan memandang keterbatasan ekonominya sebagai suatu sarana untuk hidup sederhana. Dan dengan kesederhanaan ini ia akan mencapai kebahagiaan.
Mandiri selalu.
Pertahankan kebebasan Anda. Kebebasan adalah sesuatu yang paling bernilai yang dimiliki setiap orang. Kekebasan untuk berpikir, mencipta, akan tumbuh seperti yang Anda harapkan, tentunya dengan cara yang positif. Ketika Anda menjadi amat tergantung pada orang lain, Anda akan berpikir destruktif dan menjadi malas.
Tumbuhkan sikap ketaktergantungan segera mungkin.
Bertanggungjawablah pada hidup dan tindakan yang Anda lakukan. Sekali Anda merasa mampu mengontrol hidup, Anda memulai perjalanan pikiran positif Anda. Selalu ingat ketika Anda sedang memiliki masalah dengan berpikiran positif. "Anda adalah apa yang Anda pikirkan, dan Anda merasa apa yang Anda inginkan." Dengan melakukan ini, Anda akan selalu menjadi seorang pemenang dan seorang survivor ketika masa-masa sulit.
Mau tahu kunci kesuksesan hidup? Berpikirlah positif. Ya, berpikir positif membuat Anda maju dan sukses. Dengan pikiran yang positif Anda dapat menjalani segala sesuatu tanpa terbebani oleh seribu pikiran buruk. Anda juga terhindar dari perasaan takut gagal. Jalan di depan Anda pun selalu terasa lapang.
Berpikir positif juga menyehatkan. Donald C. Cole, MD, peneliti senior pada Institute for Work and Health di Toronto, menyatakan berpikir positif membantu kesembuhan seseorang, bahkan yang terkena penyakit kronis. Ini bukan omong kosong klise belaka. Salah satu alasannya, karena itu memberi perasaan memiliki kendali atas kesehatan tubuh dan masa depan Anda, jelas psikolog klinis Elizabeth Carl, PhD.
Anda ingin tahu bagaimana langkah berpikir positif itu? Ikuti jurus-jurus berikut ini.
Bangkitkan motivasi. Membangkitkan motivasi diri yang kuat dan menambah wawasan yang memperkuat berpikir positif merupakan langkah penting. Pengukuran kualitatif motivasi dapat dilakukan dengan memberikan pemisalan negative case jika suatu tujuan tak tercapai. Misalnya, renungkanlah kemungkinan jika Anda tak diterima kerja? Dari jawaban Anda, Anda dapat memprediksi dan merasakan seberapa kuat motivasi Anda untuk diterima kerja.
Yakinlah bisa.
Kelemahan motivasi acap disebabkan oleh pikiran negatif tentang kemampuan diri sendiri, atau tentang mekanisme gerak kehidupan. Cobalah untuk membangkitkan konsep diri positif pada diri Anda. "Jika saya berpikir bahwa saya bisa, maka saya bisa." Katakan setiap ingin melakukan apapun. Yakinkan bahwa Anda bisa. Jika saat ini gagal, berusahalah terus-menerus tanpa kenal lelah. Percayalah, sugesti dari dalam diri dapat membantu Anda mempercepat mencapai proses yang Anda harapkan.
Jangan fatalistis.
Jauhkan paham fatalisme yang menyerah pada nasib. Ini punya pengaruh kuat dalam diri Anda untuk membenarkan kegagalan. Menyandarkan kesalahan atau kelemahan pada takdir, yang pengejawantahannya seperti dalam pernyataan bahwa "Saya pada dasarnya bodoh", misalnya, merupakan sumber negative thinking yang signifikan. Anda harus memeranginya, jika ide tersebut ada pada diri Anda.
Lihat sisi baik.
Pandanglah sesuatu dari sisi baiknya. Karena berpikir positif adalah memandang segala sesuatu dari sisi pandang kebaikannya. Orang yang berpikir positif akan memandang keterbatasan kemampuannya pada suatu saat. Bukan sebagai suatu "kebodohan yang menimbulkan berbagai kesialan", tapi memandangnya sebagai suatu tantangan yang amat nikmat untuk diatasi. Orang yang berpikir positif akan memandang perjuangan dan harapan. Orang yang berpikir positif akan memandang keterbatasan ekonominya sebagai suatu sarana untuk hidup sederhana. Dan dengan kesederhanaan ini ia akan mencapai kebahagiaan.
Mandiri selalu.
Pertahankan kebebasan Anda. Kebebasan adalah sesuatu yang paling bernilai yang dimiliki setiap orang. Kekebasan untuk berpikir, mencipta, akan tumbuh seperti yang Anda harapkan, tentunya dengan cara yang positif. Ketika Anda menjadi amat tergantung pada orang lain, Anda akan berpikir destruktif dan menjadi malas.
Tumbuhkan sikap ketaktergantungan segera mungkin.
Bertanggungjawablah pada hidup dan tindakan yang Anda lakukan. Sekali Anda merasa mampu mengontrol hidup, Anda memulai perjalanan pikiran positif Anda. Selalu ingat ketika Anda sedang memiliki masalah dengan berpikiran positif. "Anda adalah apa yang Anda pikirkan, dan Anda merasa apa yang Anda inginkan." Dengan melakukan ini, Anda akan selalu menjadi seorang pemenang dan seorang survivor ketika masa-masa sulit.
Dunia Psikologi (7)
Creative Value Through Innovation (Sebuah Kreativitas dari Inovasi)
Berinovasi atau mati! Itulah semboyan baru yang perlu kita
kumandangkan di zaman penuh perubahan ini. Apa itu inovasi? Mengapa
tanpa inovasi sebuah eksistensi bisa mati? Saya merumuskan inovasi
sebagai proses penciptaan dan pembaruan nilai sampai dapat dikonsumsi
oleh masyarakat pelanggan. Nilai adalah kata kuncinya. Siapa pun
Anda, apa pun organisasi Anda, kita semua dituntut oleh pelanggan
atau konstituen kita untuk menyajikan seperangkat nilai yang berguna,
yang atasnya kemudian kita layak mendapat nilai tukar yang sepadan
dari mereka.
Nah, inovasilah proses yang membawa nilai pelanggan ini dari belum
ada menjadi ada. Contoh, air mineral Aqua adalah produk inovasi Tirto
Utomo kepada masyarakat Indonesia. Oleh proses yang sama pula sebuah
nilai yang sudah ada (existing value) dapat diperbarui dan
ditingkatkan menjadi lebih tinggi dan berkualitas. Misalnya,
Alexander Graham Bell menyumbangkan nilai komunikasi bagi dunia
melalui alat yang disebut telepon. Kemudian melalui sejumlah inovasi
di berbagai tempat oleh berbagai orang pada berbagai fase, kini kita
dapat memiliki telepon genggam multifungsi dan multiguna yang jauh
lebih bernilai daripada telepon asli buatan Tuan Bell dulu. Itulah
esensi inovasi.
Berhubung kehidupan adalah sebuah ajang persaingan, dalam hal ini
semua orang dan organisasi selalu bersaing untuk mendapatkan
kesetiaan masyarakat konsumennya, maka inovasi menjadi keharusan
untuk tetap eksis dalam percaturan kehidupan. Tanpa inovasi, nilai
yang kita sajikan kepada masyarakat akan ketinggalan dan usang,
sehingga kehilangan nilai tukarnya sama sekali relatif terhadap
sajian nilai dari pesaing. Tanpa inovasi, kita akan melemah pelan- pelan dan akhirnya bangkrut, tersisih, dan punah dari kehidupan
bermasyarakat. Ini benar untuk tingkat lokal, benar pula untuk
tingkat global. Ini benar untuk perusahaan, benar pula untuk jenis
organisasi lain seperti yayasan, paguyuban, bahkan negara.
Runtuhnya negara-negara dan punahnya bangsa-bangsa masa lampau
seperti Babylonia, Assria, Makedonia, Romawi, Sriwijaya, Majapahit,
Uni Soviet dan lain-lain, pada tingkat paling fundamental dapat
dipahami sebagai akibat hilangnya nilai atas eksistensi mereka.
Tepatnya organisasi bangsa itu tidak dapat lagi menyajikan nilai yang
bermanfaat bagi ekosistem dan konstituennya. Dari faktor benefit
mereka berubah menjadi faktor parasit.
Bangkrutnya perusahaan-perusahaan juga dapat dipahami sebagai akibat
tidak mampunya mereka menyajikan nilai yang menarik bagi ekosistem
dan konstituennya, relatif terhadap pesaing-pesaing baru yang dibawa
oleh arus perubahan. Bahkan punahnya mahluk hidup seperti mammoth dan
dinosaurus juga dapat dimengerti karena mereka tak mampu lagi
memberikan nilai positif bagi lingkungan hidup mereka.
Demikian juga pada tingkat individual, seseorang akan lengser dari
kedudukan dan status sosialnya, manakala yang bersangkutan tidak
mampu lagi menyajikan seperangkat nilai posisitif bagi konstituennya.
Maka inilah nasihat sejati: Selalulah menjadi faktor berkat dan
jangan pernah menjadi faktor mudarat.
Sesungguhnya keadaan di atas adalah hukum besi kehidupan yang dikenal
sebagai prinsip evolusi. Intinya, makhluk hidup termasuk organisasi
semua makhluk, wajib menyumbangkan nilai positif bagi ekosistem
kehidupan ini, sehingga sinergi bersama dapat tercipta secara
organik, dimana kelangsungan hidup bersama dapat dijamin pula.
Sebaliknya, tatkala seseorang atau sebuah organisasi - sebesar dan
sekuat apa pun - tak mampu lagi menyajikan sebuah nilai positif bagi
kehidupan bersama, maka ia kehilangan hak alamiahnya untuk eksis.
Ekosistemnya, konstituennya, pelanggannya, stakeholdernya akan
menyisihkan dan meninggalkan dia.
Jadi hanya ada satu pilihan: berinovasi dan bertransformasi menjadi
wujud baru dengan sajian nilai baru bagi kehidupan ini. Pilihan lain:
mati dan punah dari gelangggang kehidupan.
Creating Value Through Innovation dengan demikian menjadi salah satu
kompetensi terpenting yang harus dikuasai secara baik oleh individu
maupun organisasi. Dan kompetensi ini kian hari kian penting saja.
Lihatlah para investor yang melakukan capital outflow setahun
belakangan ini karena mereka merasa tidak mendapat nilai yang sepadan
dari Ibu Pertiwi yang sedang linglung. Lihatlah ribuan perusahaan di
nusantara tercinta, mati bergelimpangan dengan jutaan korban karena
mereka tak mampu berinovasi cukup cepat dan gesit.
Dari sudut pandang ini, sebetulnya perubahan dan krisis merupakan hal
yang ditunggu-tunggu oleh para inovator. Sebab cara terbaik untuk
maju ke depan, menyalip mereka yang sudah keenakan di depan sampai
lupa diri, adalah dengan membiarkan gelombang perubahan itu menyapu
mereka habis, lalu menggunakan kayuh inovasi kita mengungkit pucuk
biduk kita sehingga sendirinya terangkat oleh lidah gelombang yang
sama. Cantik bukan?
Jadi, bagi inovator yang waspada, krisis adalah kesempatan. Namun,
bagi si kuat yang berpuas diri lagi arogan, krisis adalah kebinasaan.
Berbeda dari segi hikmat Ilahi, krisis adalah transaksi keadilan. Ya,
sesungguhnya Dia adil dalam semua jalan-Nya. Kiranya kita yang
bertelinga segera maklum, dan yang punya tangan segera bertindak!
Berinovasi atau mati! Itulah semboyan baru yang perlu kita
kumandangkan di zaman penuh perubahan ini. Apa itu inovasi? Mengapa
tanpa inovasi sebuah eksistensi bisa mati? Saya merumuskan inovasi
sebagai proses penciptaan dan pembaruan nilai sampai dapat dikonsumsi
oleh masyarakat pelanggan. Nilai adalah kata kuncinya. Siapa pun
Anda, apa pun organisasi Anda, kita semua dituntut oleh pelanggan
atau konstituen kita untuk menyajikan seperangkat nilai yang berguna,
yang atasnya kemudian kita layak mendapat nilai tukar yang sepadan
dari mereka.
Nah, inovasilah proses yang membawa nilai pelanggan ini dari belum
ada menjadi ada. Contoh, air mineral Aqua adalah produk inovasi Tirto
Utomo kepada masyarakat Indonesia. Oleh proses yang sama pula sebuah
nilai yang sudah ada (existing value) dapat diperbarui dan
ditingkatkan menjadi lebih tinggi dan berkualitas. Misalnya,
Alexander Graham Bell menyumbangkan nilai komunikasi bagi dunia
melalui alat yang disebut telepon. Kemudian melalui sejumlah inovasi
di berbagai tempat oleh berbagai orang pada berbagai fase, kini kita
dapat memiliki telepon genggam multifungsi dan multiguna yang jauh
lebih bernilai daripada telepon asli buatan Tuan Bell dulu. Itulah
esensi inovasi.
Berhubung kehidupan adalah sebuah ajang persaingan, dalam hal ini
semua orang dan organisasi selalu bersaing untuk mendapatkan
kesetiaan masyarakat konsumennya, maka inovasi menjadi keharusan
untuk tetap eksis dalam percaturan kehidupan. Tanpa inovasi, nilai
yang kita sajikan kepada masyarakat akan ketinggalan dan usang,
sehingga kehilangan nilai tukarnya sama sekali relatif terhadap
sajian nilai dari pesaing. Tanpa inovasi, kita akan melemah pelan- pelan dan akhirnya bangkrut, tersisih, dan punah dari kehidupan
bermasyarakat. Ini benar untuk tingkat lokal, benar pula untuk
tingkat global. Ini benar untuk perusahaan, benar pula untuk jenis
organisasi lain seperti yayasan, paguyuban, bahkan negara.
Runtuhnya negara-negara dan punahnya bangsa-bangsa masa lampau
seperti Babylonia, Assria, Makedonia, Romawi, Sriwijaya, Majapahit,
Uni Soviet dan lain-lain, pada tingkat paling fundamental dapat
dipahami sebagai akibat hilangnya nilai atas eksistensi mereka.
Tepatnya organisasi bangsa itu tidak dapat lagi menyajikan nilai yang
bermanfaat bagi ekosistem dan konstituennya. Dari faktor benefit
mereka berubah menjadi faktor parasit.
Bangkrutnya perusahaan-perusahaan juga dapat dipahami sebagai akibat
tidak mampunya mereka menyajikan nilai yang menarik bagi ekosistem
dan konstituennya, relatif terhadap pesaing-pesaing baru yang dibawa
oleh arus perubahan. Bahkan punahnya mahluk hidup seperti mammoth dan
dinosaurus juga dapat dimengerti karena mereka tak mampu lagi
memberikan nilai positif bagi lingkungan hidup mereka.
Demikian juga pada tingkat individual, seseorang akan lengser dari
kedudukan dan status sosialnya, manakala yang bersangkutan tidak
mampu lagi menyajikan seperangkat nilai posisitif bagi konstituennya.
Maka inilah nasihat sejati: Selalulah menjadi faktor berkat dan
jangan pernah menjadi faktor mudarat.
Sesungguhnya keadaan di atas adalah hukum besi kehidupan yang dikenal
sebagai prinsip evolusi. Intinya, makhluk hidup termasuk organisasi
semua makhluk, wajib menyumbangkan nilai positif bagi ekosistem
kehidupan ini, sehingga sinergi bersama dapat tercipta secara
organik, dimana kelangsungan hidup bersama dapat dijamin pula.
Sebaliknya, tatkala seseorang atau sebuah organisasi - sebesar dan
sekuat apa pun - tak mampu lagi menyajikan sebuah nilai positif bagi
kehidupan bersama, maka ia kehilangan hak alamiahnya untuk eksis.
Ekosistemnya, konstituennya, pelanggannya, stakeholdernya akan
menyisihkan dan meninggalkan dia.
Jadi hanya ada satu pilihan: berinovasi dan bertransformasi menjadi
wujud baru dengan sajian nilai baru bagi kehidupan ini. Pilihan lain:
mati dan punah dari gelangggang kehidupan.
Creating Value Through Innovation dengan demikian menjadi salah satu
kompetensi terpenting yang harus dikuasai secara baik oleh individu
maupun organisasi. Dan kompetensi ini kian hari kian penting saja.
Lihatlah para investor yang melakukan capital outflow setahun
belakangan ini karena mereka merasa tidak mendapat nilai yang sepadan
dari Ibu Pertiwi yang sedang linglung. Lihatlah ribuan perusahaan di
nusantara tercinta, mati bergelimpangan dengan jutaan korban karena
mereka tak mampu berinovasi cukup cepat dan gesit.
Dari sudut pandang ini, sebetulnya perubahan dan krisis merupakan hal
yang ditunggu-tunggu oleh para inovator. Sebab cara terbaik untuk
maju ke depan, menyalip mereka yang sudah keenakan di depan sampai
lupa diri, adalah dengan membiarkan gelombang perubahan itu menyapu
mereka habis, lalu menggunakan kayuh inovasi kita mengungkit pucuk
biduk kita sehingga sendirinya terangkat oleh lidah gelombang yang
sama. Cantik bukan?
Jadi, bagi inovator yang waspada, krisis adalah kesempatan. Namun,
bagi si kuat yang berpuas diri lagi arogan, krisis adalah kebinasaan.
Berbeda dari segi hikmat Ilahi, krisis adalah transaksi keadilan. Ya,
sesungguhnya Dia adil dalam semua jalan-Nya. Kiranya kita yang
bertelinga segera maklum, dan yang punya tangan segera bertindak!
Langganan:
Komentar (Atom)