Selasa, 02 Juli 2013

Dunia Psikologi (7)

Creative Value Through Innovation (Sebuah Kreativitas dari Inovasi)

Berinovasi atau mati! Itulah semboyan baru yang perlu kita 
kumandangkan di zaman penuh perubahan ini. Apa itu inovasi? Mengapa 
tanpa inovasi sebuah eksistensi bisa mati? Saya merumuskan inovasi 
sebagai proses penciptaan dan pembaruan nilai sampai dapat dikonsumsi 
oleh masyarakat pelanggan. Nilai adalah kata kuncinya. Siapa pun 
Anda, apa pun organisasi Anda, kita semua dituntut oleh pelanggan 
atau konstituen kita untuk menyajikan seperangkat nilai yang berguna, 
yang atasnya kemudian kita layak mendapat nilai tukar yang sepadan 
dari mereka. 

Nah, inovasilah proses yang membawa nilai pelanggan ini dari belum 
ada menjadi ada. Contoh, air mineral Aqua adalah produk inovasi Tirto 
Utomo kepada masyarakat Indonesia. Oleh proses yang sama pula sebuah 
nilai yang sudah ada (existing value) dapat diperbarui dan 
ditingkatkan menjadi lebih tinggi dan berkualitas. Misalnya, 
Alexander Graham Bell menyumbangkan nilai komunikasi bagi dunia 
melalui alat yang disebut telepon. Kemudian melalui sejumlah inovasi 
di berbagai tempat oleh berbagai orang pada berbagai fase, kini kita 
dapat memiliki telepon genggam multifungsi dan multiguna yang jauh 
lebih bernilai daripada telepon asli buatan Tuan Bell dulu. Itulah 
esensi inovasi. 

Berhubung kehidupan adalah sebuah ajang persaingan, dalam hal ini 
semua orang dan organisasi selalu bersaing untuk mendapatkan 
kesetiaan masyarakat konsumennya, maka inovasi menjadi keharusan 
untuk tetap eksis dalam percaturan kehidupan. Tanpa inovasi, nilai 
yang kita sajikan kepada masyarakat akan ketinggalan dan usang, 
sehingga kehilangan nilai tukarnya sama sekali relatif terhadap 
sajian nilai dari pesaing. Tanpa inovasi, kita akan melemah pelan- pelan dan akhirnya bangkrut, tersisih, dan punah dari kehidupan 
bermasyarakat. Ini benar untuk tingkat lokal, benar pula untuk 
tingkat global. Ini benar untuk perusahaan, benar pula untuk jenis 
organisasi lain seperti yayasan, paguyuban, bahkan negara. 

Runtuhnya negara-negara dan punahnya bangsa-bangsa masa lampau 
seperti Babylonia, Assria, Makedonia, Romawi, Sriwijaya, Majapahit, 
Uni Soviet dan lain-lain, pada tingkat paling fundamental dapat 
dipahami sebagai akibat hilangnya nilai atas eksistensi mereka. 
Tepatnya organisasi bangsa itu tidak dapat lagi menyajikan nilai yang 
bermanfaat bagi ekosistem dan konstituennya. Dari faktor benefit 
mereka berubah menjadi faktor parasit. 

Bangkrutnya perusahaan-perusahaan juga dapat dipahami sebagai akibat 
tidak mampunya mereka menyajikan nilai yang menarik bagi ekosistem 
dan konstituennya, relatif terhadap pesaing-pesaing baru yang dibawa 
oleh arus perubahan. Bahkan punahnya mahluk hidup seperti mammoth dan 
dinosaurus juga dapat dimengerti karena mereka tak mampu lagi 
memberikan nilai positif bagi lingkungan hidup mereka. 

Demikian juga pada tingkat individual, seseorang akan lengser dari 
kedudukan dan status sosialnya, manakala yang bersangkutan tidak 
mampu lagi menyajikan seperangkat nilai posisitif bagi konstituennya. 
Maka inilah nasihat sejati: Selalulah menjadi faktor berkat dan 
jangan pernah menjadi faktor mudarat. 

Sesungguhnya keadaan di atas adalah hukum besi kehidupan yang dikenal 
sebagai prinsip evolusi. Intinya, makhluk hidup termasuk organisasi 
semua makhluk, wajib menyumbangkan nilai positif bagi ekosistem 
kehidupan ini, sehingga sinergi bersama dapat tercipta secara 
organik, dimana kelangsungan hidup bersama dapat dijamin pula. 
Sebaliknya, tatkala seseorang atau sebuah organisasi - sebesar dan 
sekuat apa pun - tak mampu lagi menyajikan sebuah nilai positif bagi 
kehidupan bersama, maka ia kehilangan hak alamiahnya untuk eksis. 
Ekosistemnya, konstituennya, pelanggannya, stakeholdernya akan 
menyisihkan dan meninggalkan dia. 

Jadi hanya ada satu pilihan: berinovasi dan bertransformasi menjadi 
wujud baru dengan sajian nilai baru bagi kehidupan ini. Pilihan lain: 
mati dan punah dari gelangggang kehidupan. 

Creating Value Through Innovation dengan demikian menjadi salah satu 
kompetensi terpenting yang harus dikuasai secara baik oleh individu 
maupun organisasi. Dan kompetensi ini kian hari kian penting saja. 
Lihatlah para investor yang melakukan capital outflow setahun 
belakangan ini karena mereka merasa tidak mendapat nilai yang sepadan 
dari Ibu Pertiwi yang sedang linglung. Lihatlah ribuan perusahaan di 
nusantara tercinta, mati bergelimpangan dengan jutaan korban karena 
mereka tak mampu berinovasi cukup cepat dan gesit. 

Dari sudut pandang ini, sebetulnya perubahan dan krisis merupakan hal 
yang ditunggu-tunggu oleh para inovator. Sebab cara terbaik untuk 
maju ke depan, menyalip mereka yang sudah keenakan di depan sampai 
lupa diri, adalah dengan membiarkan gelombang perubahan itu menyapu 
mereka habis, lalu menggunakan kayuh inovasi kita mengungkit pucuk 
biduk kita sehingga sendirinya terangkat oleh lidah gelombang yang 
sama. Cantik bukan? 

Jadi, bagi inovator yang waspada, krisis adalah kesempatan. Namun, 
bagi si kuat yang berpuas diri lagi arogan, krisis adalah kebinasaan. 
Berbeda dari segi hikmat Ilahi, krisis adalah transaksi keadilan. Ya, 
sesungguhnya Dia adil dalam semua jalan-Nya. Kiranya kita yang 
bertelinga segera maklum, dan yang punya tangan segera bertindak! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar